Apa yang Aneh dengan JK

BERADA di luar kekuasaan membuat orang kiranya lebih merdeka. Jika aslinya berwatak berterus terang, kemerdekaan itu membuka ruang lebih luas lagi untuk terang-terangan. Dari sudut pandang itu, setelah tak lagi menjadi wakil presiden, kiranya suara Jusuf Kalla kian perlu didengarkan.

Suatu hari JK bilang bahwa dia berbeda pendapat dengan Jokowi dalam Pilkada Jakarta. JK mendukung Anies Baswedan, sedangkan Jokowi mendukung Ahok. Adakah yang aneh di dalam perkara ini? Di dalam perkara ini tak ada urusan dengan bunyi konstitusi bahwa dalam melakukan kewajibannya presiden dibantu satu orang wakil presiden. Dalam urusan ini yang ‘bunyi’ ialah JK sebagai JK, Jokowi sebagai Jokowi, warga negara yang punya preferensi terhadap seorang calon kepala daerah.

Suatu hari yang lain JK berkata bahwa Rizal Ramli dicopot dari kabinet karena dia tak bisa memimpin. Jabatannya menteri koordinator bidang kemaritiman, namun tak ada menteri yang mau hadir diundangnya dalam rapat koordinasi. Adakah yang aneh di dalam perkara ini?

JK memberi tahu publik tentang kinerja Rizal Ramli. Baiklah publik memetik pengertiannya sendiri tentang seorang Rizal Ramli yang mengisi masa mudanya dan hari tuanya dengan mengkritik pemerintah. Apa yang aneh? Kritikus sastra HB Jasin tak menghasilkan karya sastra.

Suatu hari yang lain lagi JK berpendapat bahwa ada kekosongan pemimpin, yakni pemimpin yang menyerap aspirasi masyarakat. Di dalam perkara ini terasa aneh bila JK tak menghitung dirinya lagi sebagai yang digolongkan sebagai pemimpin. Jika dia masih tergolong pemimpin, apakah dia termasuk di penilaian ‘kekosongan pemimpin’ yang menyerap aspirasi masyarakat? Baiklah dipujikan bila dia implisit mengkritik dirinya sendiri, sekalipun ada yang melihat dari sudut pandang lain, tidakkah JK memercik air di dulang? Yang terakhir ini pun bukan perkara aneh. Bermain air berisiko tepercik muka sendiri.

SUATU hari yang lain lagi, tepatnya baru-baru ini JK melontarkan pertanyaan bagaimana mengkritik pemerintah tanpa dipanggil polisi? Ini pertanyaan penting di dalam perspektif demokrasi. Kekuasaan bisa oversensitif terhadap kritik, polisi bisa overloyal terhadap pemerintah. Bagaimana agar tidak over dalam banyak hal, termasuk tidak overdosis di dalam mengkritik dan sebaliknya pun tidak overdosis di dalam menjawab kritik, kiranya pertanyaan yang lebih bersifat ‘kerohanian’ di dalam berdemokrasi. Bukankah berdemokrasi mengandung makna kerohanian ‘tahu diri dan tahu batas’? Anda menolak hasil pemilu, pergilah ke MK (tahu batas). Anda kalah di MK, lapangkanlah dada (tahu diri). Celakalah negara demokratis bila kerohaniannya keruh yang menang dan yang kalah pemilu tak tahu diri dan tak tahu batas.

Anda menolak hasil pemilu, pergilah ke MK (tahu batas). Anda kalah di MK, lapangkanlah dada (tahu diri). Celakalah negara demokratis bila kerohaniannya keruh yang menang dan yang kalah pemilu tak tahu diri dan tak tahu batas.

Recent Comments

    Categories

    Comments are closed.