Mengenang Ignas Kleden

0 156

SEORANG lagi pemikir tutup usia. Kita kehilangan cendekiawan yang semasa hidupnya produktif dan kreatif memperkaya kepublikan dengan pemikiran-pemikirannya. Ignas Kleden, kemarin, pergi meninggalkan kita dalam usia 76 tahun. Satu tulisannya di Majalah Kebudayaan Basis yang terbit di Yogya di awal 1970-an tentang rambut gondrong, tak terlupakan. Bahkan, panjangnya sampai dapat menyapu jalanan. Kenapa keberatan? Menyetujui ‘rambut gondrong sampai dapat menyapu jalanan’ itu kiranya mewakili orisinalitas Ignas Kleden dalam berargumentasi.

Ketika membacanya, orang bukan saja diajak berpikir, juga berimajinasi. Terus terang saya terhibur, geli sendiri membayangkan ada yang amat gondrong bebas berseliweran tak sadar rambutnya menyapu Malioboro.

Suatu hari di LP3Y, sebuah lembaga pelatihan jurnalistik, Ignas Kleden membawakan materi tentang wawancara, pembekalan bagi (calon) wartawan. Inilah pembekalan melampaui buku saku jurnalisme. Interview bukan semata ‘teknik’, yaitu tanya & jawab, melainkan sebuah ‘dialog’. Di dalam berdialog hadir kesetaraan posisi dan kemampuan untuk saling ‘mendengarkan’.

Saya pikir, itulah yang membuat saban kali reporter mewawancarai sumber berita, saban kali itu pula bukan saja dia membawa berita, melainkan dirinya pun bertambah ‘kaya’ di dalam semesta pengetahuan. Bahkan, di dalam wawancara dapat tergali dimensi suka & duka (human interest) kehidupan yang turut memperkuat batin. Yang juga mengesankan ialah tulisan Ignas Kleden dalam mengantar sebuah buku. Kata pengantar tak hanya sebatas untuk buku tersebut yang diantarkan ke pembaca.

Pembaca diantarnya jauh ke buku-buku lain karya si penulis. Ini mendorong rasa penasaran intelektual untuk juga membaca buku-buku itu.

DI Yogya, saya mewawancarai Clifford Geertz untuk majalah Tempo (1984). Pengetahuan saya tentang C Geertz sebatas bukunya yang tersohor yang telah diterjemahkan, Involusi Pertanian dan Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Suatu pagi, kala bertandang ke rumah Umar Kayam di
bilangan Bulak Sumur, Yogya, saya melihat buku The Interpretation of Cultures karya C Geertz di atas meja kerja Pak Kayam, di sebelah mesin ketik. Pak Kayam, sastrawan dan doktor sosiologi lulusan Cornell itu, memuji gaya C Geertz ‘bercerita’. Saya pun sedikit bertambah
‘tahu’ tentang Geertz.

Belasan tahun kemudian (1998) terbit buku terjemahan After the Fact. Ignas Kleden memberi pengantar berjudul Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap. Sebuah judul panjang berisi perjalanan bernas pemikiran C Geertz yang dipadatkan dalam 14 halaman.
Ignas menamakan tahapan pertama pemikiran C Geertz tahapan studi empiris. Tahapan kedua dinamakannya tahapan studi teoretis. Tahapan ketiga dinamakannya tahapan studi epistemologis. Buku After the Fact, demikian Ignas Kleden, adalah hasil perenungan Geertz tentang kedudukan ilmu antropologi, buah empat dasawarsa meneliti di dua negeri (Indonesia dan Maroko). “Maka, subjudul buku ini terbaca bagaikan sebuah pengakuan dalam nostalgia: Two Countries Four Decades, One Anthropologist,” tulis Ignas.

Tulisan Ignas Kleden itu ialah sebuah pengantar buku yang memesona. Akan tetapi, Ignas berkata tak boleh ‘mendahului’ pembaca. “Setiap orang dapat mengembangkan dialog yang khas dengan sebuah karya yang dibacanya.”

Obituarium ini hanya mengambil sekelumit pemikiran Ignas Kleden. Seorang pemikir ilmu sosial langka dengan latar belakang filsafat dan sastra kuat yang produktif dan kreatif membagi kekayaan intelektualnya kepada publik.

Kita kehilangan seorang public intellectual di tengah berita buruk skor literasi membaca pelajar kita yang terus menurun atau kampanye makan siang gratis lebih penting daripada internet gratis

Leave A Reply

Your email address will not be published.