Melawan Kematian

22

KUBURAN pers cetak bertambah lagi satu penghuninya. Mulai tahun ini surat kabar Republika menyatakan diri tutup usia.

Saban kali ada surat kabar terpandang meninggal dunia, saban kali itu pula hati ini terenyuh. Saya berduka ketika Koran Tempo berpamitan dengan pembacanya. Suasana kebatinan serupa menyelimuti hati ini ketika Republika menyusul kepergian harian umum yang kredibel itu.

Republika ialah surat kabar berbasiskan pembaca umat Islam. Khalayak yang sangat besar dan luas. Koran Tempo khalayaknya lebih luas lagi karena tak tersekat agama. Faktanya ialah kematian pers cetak tidak mengenal siapa khalayaknya, betapa pun besar dan luas potensinya.

Ajal itu datang tidak seperti pencuri di malam gelap. Dia datang terang-terangan. Maut itu bahkan datang secara incremental, bukan secara radikal. Dia datang perlahan. Jurnalisme pantang menyerah. Lawan kematian!

Sampai saatnya tiba, penerbit amat menyadari bahwa neraca kehidupan dan kematian tiada lagi batasnya. Jurnalismenyakah yang kalah ataukah sang medium?

Related Posts

Tak ada gunanya mempertahankan hidup dengan napas terengah-engah berkepanjangan kendati berbasiskan ketangguhan jurnalisme. Prestise pun tidak menyelamatkan kematian.

Dengan penuh kejujuran tibalah saatnya pamit kepada pembaca. Sebagai medium cetak, Koran Tempo menjelang 20 tahun dan Republika dalam usia 30 tahun berpisah selamanya dengan publik.

Demikianlah, kuburan media cetak bertambah penghuninya. Akan tetapi, sang jurnalisme tetap bernyawa kendati sang cetak tewas. Penerbit mengumumkan: kita bertemu di medium online.

Hari ini, Kamis, 19 Januari 2023, Media Indonesia berulang tahun ke-53. Media ialah organisme yang punya tubuh dan jiwa. Bukan umur yang pendek, bukan pula umur yang panjang bila sang medium nan cetak itu sebagai tubuh dan jurnalisme sebagai jiwa tiada mampu merestorasi diri melawan kematian.

Untuk itu diperlukan kesadaran yang bening: ada banyak yang kurang di dalam diri ini dan ada banyak lagi hal yang harus berubah diperkuat di dalam diri ini untuk menang melawan kematian. Tiada guna hidup bila tiada bermakna. Kami ingin hidup seribu tahun lagi.

Terima kasih kepada pembaca yang setia berlangganan yang tetap percaya media cetak ialah produk sebuah peradaban yang amat panjang. Terima kasih kepada pemasang iklan yang tetap percaya bahwa media cetak ialah barometer jurnalisme di tengah hiruk-pikuk media sosial.

Leave A Reply

Your email address will not be published.