Ade Armando

234

PEJUANG melawan intoleransi Ade Armando dikeroyok massa. Itu terjadi Senin (11/4) di kompleks Gedung DPR.

Pengeroyok itu bukan mahasiswa. Pagi itu luas diberitakan mahasiswa berdemonstrasi ke DPR. Sebuah bukti bahwa gerakan mahasiswa turun ke jalan kesusupan.

Ade Armando datang bukan untuk ikut unjuk rasa. “Saya tidak ikut demo. Saya mantau dan ikut mendukung,” katanya dalam sebuah wawancara sebelum terjadi perbuatan biadab terhadap dirinya.

Demo mahasiswa itu antara lain berisi sikap menolak penundaan pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode. Ade Armando mendukungnya, dan dia tak sendirian dalam perkara ini.

Ade Armando pun tak datang sendirian. Dia datang ke Gedung DPR bersama tim (dua kamerawan dan dua penulis) untuk atas nama Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) yang diketuainya melakukan peliputan. “Tujuannya untuk membuat konten Youtube dan media sosial Gerakan PIS,” kata Nong Darol Mahmada, Sekjen PIS.

Ade Armando pegiat media sosial. Dia bukan hanya seorang pemikir sebagaimana layaknya seorang dosen. Dia bukan pula hanya pengajar ilmu komunikasi yang berteori di muka kelas di kampus UI. Dia komunikator kepublikan yang cerdas. Dan, berani. Melalui media sosial, dia berani mengekspresikan ‘logikanya’ melawan pendapat umum, melawan arus besar.

Goenawan Mohamad melihat kedatangan Ade Armando ke Gedung DPR itu tidak terlepas dari perlawanannya terhadap intoleransi, sikap yang menggencet minoritas dan perbedaan. Ade Armando memang sangat vokal dan argumentatif melawan intoleransi. Mengikuti berbagai pandangannya, mendengarkan ketegasan sikapnya, saya pikir dia layak disebut sebagai pejuang melawan intoleransi. Kiranya bukan pengakuan yang berlebihan.

Bagi Ade Armando, semua narasi intoleransi harus dilawan. Yang paling sensitif sekalipun, menyangkut agama, membela minoritas, dilakukannya. Sebuah sikap memerlukan nyali, bukan hanya besar, tapi ekstrabesar.

Pembelaannya terhadap Injil berbahasa Minang kiranya ekspresinya yang paling krusial yang menunjukkan siapa Ade Armando yang orang Minang itu. Atas pembelaannya itu, dia tidak diakui lagi sebagai orang Minang.

Ade Armando kiranya milik kaum pemikir bebas yang berintegritas, melampaui batas-batas puak dan keyakinan. Orang boleh berbeda pandangan dengan Ade Armando, bahkan dengan siapa pun, tapi penganiayaan, kekerasan terhadap orang yang berbeda pandangan itu, harus dilawan dan dibawa ke muka hukum.

Ade Armando bukan hanya dihajar bertubi-tubi. Dia ditelanjangi. Ini semua bukan hanya tindak kekerasan, tapi sadis dan biadab.

Demonstrasi tidak boleh dilarang. Saya setuju pendapat ini. Di atas ekspresi berdemokrasi itu hendaknya harus pula hidup dan tegak rasa hormat kita kepada manusia. Saya pikir, inilah yang hilang.

Kata Tsakhiagiin Elbegdorj, Presiden Mongolia periode 2009-2017, demokrasi mengenai manusia. Bukan politik. “Democracy is not about politics, it is about the people.”

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.