Kuburan bagi Kepastian

53

SEPAK bola Eropa kiranya kian mengukuhkan dirinya sebagai sepak bola terbaik di dunia. Amerika Latin terus memproduksi pemain-pemain hebat. Namun, mutu sepak bola terbaik di level klub ataupun di level negara berada di Eropa.

Pernyataan bernada hiperbola itu didukung fakta keras empat kali berturut (2006, 2010, 2014, dan 2018) Piala Dunia dijuarai negara-negara Eropa (Italia, Spanyol, Jerman, dan Prancis). Terakhir 2002, Amerika Latin diwakili Brasil menjadi juara dunia. Setelah itu mandek.

Bahkan, pada 2018, sampai juara keempat semuanya direbut negara-negara Eropa (Prancis, Kroasia, Belgia, Inggris). Publik sepak bola sejagat kala itu tercengang Belgia kok bisa menyingkirkan Brasil di babak perempat final Piala Dunia.

Begitulah sepak bola Eropa bisa bikin orang kapok memprediksi masa depan. Bahkan dia bisa membuat orang kecut untuk mereka-reka, untuk satu musim sekalipun.

Di Inggris Liverpool hanya semusim juara Liga Primer. Di Italia, dominasi scudetto Juventus tahun ini ditumbangkan Inter Milan. Di Spanyol, Atletico Madrid juara La Liga menggeser cengkeraman Real Madrid dan Barcelona.

Di Eropa nasib manajer bisa seperti secepat membalikkan telapak tangan. Arsenal memecat Unai Emery. Di kompetisi Liga Eropa, Emery menukangi Villareal menyingkirkan Arsenal. Bahkan di final, Emery membawa Villareal juara mengalahkan Manchester United melalui tendangan penalti. Media Eropa membahasakannya sebagai kemenangan fantastis sebuah klub dari sebuah kota (Villareal) berpenduduk 50 ribu, menggulingkan sebuah klub dari sebuah kota (Manchester) berpenduduk 550 ribu atau 11 kali lipat. Apakah Arsenal menyesal memecat Emery? Perbandingan yang lebih seru ialah apakah Paris Saint-Germain yang menargetkan juara Liga Champions juga menyesal membuang Thomas Tuchel yang ternyata dalam empat bulan saja mewujudkannya di Chelsea bahkan dengan menumbangkan Manchester City? Tuchel sekaligus menunjukkan kemajalan Pep Guardiola, manajer tergolong paling kreatif di dunia.

Pemilik klub di Eropa tidak memiliki kesabaran untuk hidup tanpa trofi. Hanya dalam 2 tahun 4 bulan manajer sekelas Jose Mourinho dipecat dua kali, masing-masing oleh Manchester United (18 Desember 2018) dan Tottenham Hotspur (19 April 2021). Sudah tentu tidak terbayangkan kekecewaan Zinedine Zidane atas perlakuan presiden klub Florentino Perez. Menurut Zizou, sang presiden tidak peduli, tidak respek pada dirinya. Katanya, hubungan kemanusiaan esensial, lebih penting daripada uang. Sebuah pernyataan yang mengherankan karena Perez dikenal memercayai Zizou. Namun, kiranya satu perkara jelas. Sekalipun Zidane membuat sejarah Real Madrid tiga kali berturut juara Liga Champions, hal itu tidak menghapus ‘sakitnya’ digusur Atletico, rival sekota, musim ini.

Ronald Koeman meninggalkan tim nasional Belanda demi menggenapkan impiannya menukangi Barcelona, mantan klubnya. Tanpa bilang ‘ba’ atau ‘bu’, dibuangnya Luis Suarez ke Atletico Madrid. Penyerang buangan itu malah membawa klub barunya itu juara La Liga, tidak hanya menyingkirkan Barca, juga Real Madrid. Dalam semusim saja Koeman nyaris dipecat.

Semua itu ‘panorama dramatis’ sepak bola Eropa di masa pandemi. Penuh kagetan, yang justru membuat Euro 2020 kian merangsang naluri spekulatif. Indahnya sepak bola di level dunia ialah dia kuburan buat sebuah kepastian, yang terbuka buat hadirnya keberuntungan. Adu penalti yang mendebarkan sering bukan lagi perkara keahlian yang terlatih, melainkan berpihaknya nasib baik. Semoga tidak ada adu penalti di Euro 2020.

Saya penggemar sepak bola Belanda dan harapan kembali bersemi setelah Koeman memulihkan reputasi tim Oranye bersama kapten Virgil van Dijk, bek termahal yang dibeli Liverpool. Namun, bunga hati saya kembali layu gara-gara dua hal. Pertama, Koeman pergi digantikan Frank de Boer. Ini manajer gagal, dipecat Inter Milan dan Crystal Palace. Kedua, cederanya Virgil van Dijk membuat Belanda kehilangan sang pemimpin. Semakin ke sini setelah era Johan Cruyff, para bintang Oranye cenderung merasa lebih hebat daripada yang lain, membuat Belanda sempat terbuang ke titik nadir. Skill individu yang tinggi dihancurkan oleh ego yang merusak kesebelasan sebagai sebuah tim. Harus ada figur pemain yang dihormati dan didengarkan sebagai pemimpin. Van Dijk yang cedera itu pun sampai perlu diboyong ke Euro 2020 karena wibawanya diperlukan di ruang ganti.

Cidera pemain utama bisa merepotkan. Belgia misalnya berkemungkinan tidak dapat menurunkan Kevin de Bruyne, pemain tengah tergolong terbaik di dunia. Cedera juga bikin pemain senior kehilangan kesempatan mengakhiri kariernya dengan manis. Itulah misalnya yang dialami Sergio Ramos, kapten Spanyol. Celakanya, Sergio Busquets, kapten penerus delapan hari sebelum pertandingan pembukaan Euro 2020 terinfeksi korona.

Euro 2020 akhir pengabdian Joachim Low setelah 15 tahun memimpin tim nasional Jerman. Dia telah membawa Jerman juara dunia (2014). Apakah dia akan mengulanginya di level Eropa? Saya tak yakin. Pertanyaan menjanjikan itu boleh ditujukan kepada Didier Deschamps, yang juga membawa Prancis juara dunia (2018). Les Blues punya banyak pemain berkelas seperti Kylian Mbappe dan N’Golo Kante. Kiranya mereka belajar dari kekalahan ketika ditumbangkan Portugal di final Euro 2016. Mereka kalah ketika itu, sekalipun Cristiano Ronaldo cedera pada menit ke-17 dan sejak menit ke-21 hanya dapat membakar semangat rekan-rekannya dari pinggir lapangan.

Kompetisi Liga Primer paling berat di Eropa. Manajer terbaik dan pemain bermasa depan cemerlang menjadikan sepak bola Inggris sebagai kancah adu kehebatan. Kiranya kualitas sejumlah pemain nasional Inggris pun turut tertempa ke level teratas. Oleh karena itu, rasanya pun tak berlebihan bila ada yang berpengharapan Gareth Southgate dapat meracik Inggris menjadi juara.

Saya berulang menonton video kehebatan seorang Lukaku di Inter Milan. Antonio Conte telah mengubah penyerang Belgia itu menjadi penyerang berbadan besar yang berlari sangat cepat dan haus gol. Dia disegani di Seri A. Lukaku bukan hanya produktif menjebol gawang lawan, juga pembelajar bahasa sangat cepat. Dalam tempo singkat dia fasih berbahasa Italia. Sebuah kecerdasan yang menumbuhkan kekaguman.

Sepak bola kuburan bagi sebuah kepastian. Spekulasi tak terbendung. Kiranya Belgia–negara kecil tetangga Belanda itu–dapat kembali masuk empat besar. Belgia peringkat 1 sepak bola dunia versi FIFA. Jika dia juara Euro 2020, sempurnalah peringkat itu.

Yuk, minum wine atau ngopi-ngopi di rumah masing-masing, merayakan terciptanya sejarah baru.

Leave A Reply

Your email address will not be published.