Perjalanan Cantik Obama

155

SIAPAKAH presiden paling asyik di dunia dalam rangka mengakhiri masa jabatannya? Jawabnya ialah Barack Obama. Presiden AS itu mewariskan contoh terbaik bagaimana turun takhta dengan cantik. Setelah AS kalah di Perang Vietnam yang sangat menyakitkan, tak terbayangkan akan ada presiden AS mengunjungi negara itu untuk mengumumkan keputusan mencabut sepenuhnya embargo penjualan senjata perang yang mematikan. Padahal, dalam ideologi tak ada yang berubah dengan Vietnam. Negara itu masih negara satu partai, Partai Komunis, dengan nama resmi Republik Sosialis Vietnam. Obama berdiplomasi bahwa di negara itu ada kemajuan hak asasi manusia. Pernyataan manis.

Obama membahasakan pencabutan embargo itu sebagai mencabut ‘sisa Perang Dingin yang masih ada’. Langkah itu bertujuan menyelesaikan proses panjang menuju normalisasi hubungan dengan Vietnam. Diplomasi itu kemudian dihiasi kejutan menikmati makanan khas Vietnam. Menjelang tengah malam 24 Mei, dengan masih mengenakan kemeja putih lengan panjang, berdua dengan Anthony Bourdain juru masak terkemuka pembawa acara di CNN Obama menyantap bakmi khas Vietnam. Di meja tampak dua botol kecil bir lokal. Bourdain yang mentraktirnya, total US$6, nilai yang pasti tidak tergolong gratifi kasi bagi KPK.

Tak hanya dengan Vietnam. Obama pun membuat terobosan diplomasi dalam lawatannya di Jepang. Dengan didampingi PM Shinzo Abe, Obama mengunjungi Hiroshima (27/5). Ia menjadikan dirinya presiden AS pertama ke sana dalam 70 tahun sejak bom nuklir menghancurkan kota itu. Tak sepotong kata maaf terucap dalam pidatonya, tetapi kunjungan itu mengekspresikan triliunan maaf. Katanya, jika 70 tahun lalu di sebuah pagi bom jatuh, kini di pagi yang cerah, mengembang senyum anak-anak kita dalam cinta perdamaian.

Related Posts

Sejarah pun tercipta ketika Obama melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba. Ia menjadikan dirinya presiden AS pertama dalam 88 tahun ke negeri itu. Warga Kuba menyambutnya hangat. Satu lagi musuh Perang Dingin dirangkul, diikuti langkah konkret, yaitu penandatanganan perjanjian pemulihan penerbangan untuk pertama kali dalam 50 tahun. Berdasarkan perjanjian itu, bakal ada 100 penerbangan tiap hari! Padahal, seperti Vietnam, Kuba masih negara komunis. Apakah
tidak ada udang di balik batu? AS negara adidaya yang jago dalam perkara ‘udang di balik batu’, bahkan terang-terangan ‘di atas batu’.

Obama mengirim pesan kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping bahwa sang adidaya paham benar perubahan geopolitik di Asia, terutama berkaitan dengan hasrat besar Tiongkok berkuasa di Laut China Selatan. Bukankah sepertiga perdagangan maritim global melalui Laut China Selatan? Vietnam sedang bersengketa dengan Tiongkok di situ. Mencabut embargo senjata mematikan dengan Vietnam menunjukkan bahwa AS ‘hadir’, langsung atau tidak langsung di perairan itu. Dalam perspektif geopolitik Asia itu pula peranan Jepang-AS harus dilihat. Kendati relasi AS-Jepang bak buku terbuka, dapat dibaca siapa pun, kunjungan Obama ke Hiroshima memberi kedalaman makna tertentu.

Bukankah Tiongkok pun bersengketa dengan Jepang di Laut China Timur? Kunjungan ke Kuba (21-23/3) menorehkan sejarah khas. Ekonomi Kuba menderita berat sekali. Menurut Time.com, 79% penduduk Kuba tidak puas dengan sistem ekonomi negara mereka dan sebanyak 55%, jika bisa, i ngin meninggalkan Kuba. Sebaliknya, 97% berpandangan hubungan lebih baik dengan AS menguntungkan Kuba. Obama menangkap peluang itu. Caranya? Sri Paus Fransiskus yang sangat populer di pulau itu membuka hati dan jalan. Hasilnya Obama menjadi presiden AS pertama dalam 88 tahun berkunjung ke Kuba. Perlu pula disebut, konser gratis The Rolling Stones di Ciudad Deportiva, Kuba, 25 Maret, setelah kedatangan Obama, yang ditonton sekitar 500 ribu oran g, penanda diterimanya ‘penyimpangan ideologi’ di negeri komunis itu.

Padahal, di dalam negerinya sendiri, tengah berlangsung pertarungan sengit perebutan kursi calon presiden untuk menggantikan dirinya. Sebagai presiden dari Partai Demokrat, Obama telah bersuara agar tidak memilih Donald Trump (Partai Republik). Ia pun telah mendatangi Inggris, agar tidak terjadi Brexit, keluar dari
Uni Eropa. Ia lalu meneruskan travelling geopolitik ke Asia, jalan-jalan kenegaraan, santai tapi terhormat. Siapa pun presiden AS setelah Obama, bahkan siapa pun pemimpin negara, kiranya sulit menyamai, apalagi melampaui betapa cantiknya Obama mengakhiri masa jabatannya dengan membuat perjalanan cantik bersejarah.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.