Nama

162

NAMANYA Tuhan. Umurnya 43, pekerjaannya tukang kayu di Banyuwangi, Jawa Timur. Seperti nama lainnya, namanya pun ditulis dengan awal huruf besar, ‘t’ besar. Nama itu ramai dibahas di media sosial karena tak lazim.

Ada juga orang bernama Saiton, 36, guru di Palembang. Nama itu pun dengan ‘s’ besar. Kalau mereka duduk berdampingan, bersahabat, terjadilah Tuhan berteman dengan Saiton. Hubungan manusiawi karena keduanya memang manusia, anak bangsa Indonesia.

Yang bernama Tuhan itu bukanlah Tuhan Allah, Sang Pencipta Langit dan Bumi. Yang bernama Saiton pun bukan setan penggoda Hawa hingga terlempar dari firdaus. Nama itu sekadar nama, tiada hubungan dengan Tuhan dan setan.

Di Spanyol, dengan mayoritas pemeluk Katolik, lazim orang bernama Jesus. Sebutlah Jesus Navas Gonzalez, pemain Manchester City. Nama itu tidak bermaksud menggantikan Jesus dari Nazareth, yang lahir dari kandungan Bunda Maria. Di sana nama itu bukan masalah.

Sebaliknya, bayangkanlah di negeri ini, ada orang bernama Jesus Hutabarat, jemaat HKBP pula. Saya yakin, beramai-ramai orang Batak, khususnya sesama Hutabarat, meminta ganti nama. Saya pun percaya pendeta HKBP enggan membaptisnya. Orangtuanya bisa-bisa dicap ‘gila’.

Seseorang diberi nama, umumnya, sesuka orangtuanya. Ada karena kebiasaan. Dahulu, kabarnya, ada kebiasaan puak tertentu memberi
nama sesuai apa yang dilihat ayahnya ketika sang jabang bayi lahir ke
bumi.

Bila ayah sedang melihat bangku, anak itu diberi nama Bangku. Kalau sedang melihat roti, ya, si Roti-lah namanya. Bagaimana kalau melihat lalat? Masak diberi nama Lalat?

Itu kiranya lebih baik daripada ketika baru lahir
diberi nama panjang dan hebat, Jujur Patriot Harapan Bangsa, tetapi di
masa depan, setelah menjadi pejabat publik, ditangkap KPK karena
korupsi.

Related Posts

Orang Inggris, yang katanya berperadaban tinggi, pun sesukanya memberi nama. Contoh, Danny Drinkwater, alias Danny Minumair, pemain klub Leicester City.

Drinkwater pertama kali bermain untuk timnas Inggris
umur di bawah 18 dan mencetak gol kedua dari kemenangan 2-0 saat melawan
Ghana. Di Eropa sana, nama itu bukan soal. Namun, di sini?

Cobalah beri nama anak Minumair, bahkan lebih keren
Minumsusu atau Minumjus, anak itu bakal putus sekolah karena tak sanggup
menghadapi cemoohan dan olok-olok temannya.

Apalah artinya sebuah nama?

William Shakespeare bisa salah, bisa benar. Salah karena nama mengandung makna.

Sebuah nama bahkan bisa jadi hasil kajian numerologi,
yakni studi mengenai angka, seperti angka pada tanggal dan tahun
kelahiran serta pengaruhnya pada kehidupan.

Tentu saja ada yang setelah dewasa datang ke pengadilan negeri untuk mengubah nama pemberian orangtuanya karena membawa sial. Tak usah pula heran, ada yang setelah terkenal mengubah nama panggilannya menjadi nama selebritas dan komersial.

Kembali ke nama Tuhan dan Saiton, dalam hal ini kiranya Shakespeare benar, apalah artinya sebuah nama.

Mawar tetaplah mawar, apa pun nama lainnya, selama tetap harum.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.