NTW

152

SETELAH Joop Ave tak lagi menjadi menteri pariwisata, kuat pandangan negeri ini sesungguhnya tak lagi memiliki tokoh besar di bidang penghasil devisa itu. Menteri pariwisata setelah Joop Ave dinilai belum mampu menyamai, terlebih melampaui. Di tengah kompetisi pasar turisme internasional kian sengit dan berat, mereka yang menduduki kursi menteri pariwisata tak memiliki pikiran sekelas Joop Ave mengenai turisme global serta sekaya-setajam Joop Ave dalam pengembangan destinasi. Akibatnya, Indonesia sebagai negara tujuan wisata (NTW) yang lebih kaya daerah tujuan wisata kian tertinggal ketimbang Singapura, Malaysia, Thailand.

Sudah sering terdengar Menteri Pariwisata Arief Yahya bergairah bakal mempromosikan pariwisata Indonesia di mancanegara. Terakhir ia menyebut menyediakan dana Rp10 miliar khusus untuk mempromosikan Danau Toba di tingkat internasional. Dikabarkan pula, kini sedang dipersiapkan keputusan presiden tentang dewan pengelolaan Danau Toba. Sejujurnya, berita bagus atau berita burukkah itu? Jawabannya, sebaiknya dicari dalam konteks besar, perbandingan regional.

Di saat kita masih menunggu terbitnya keppres ihwal Danau Toba, pada 16 Agustus lalu Thailand menyambut khusus kedatangan turis asing ke-19 juta di Bandara Phuket. Sepuluh hari kemudian (26/8), mereka menyambut istimewa kedatangan turis asing ke-20 juta, Shoji Omoru, asal Jepang, di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Semua itu rangkaian Green Marketing Strategy (menyambut khusus setiap pertambahan sejuta turis asing) dari 30 Juni hingga 30 September 2015.

Kendati Malaysia Airlines secara teknis bangkrut dan wisatawan dari Tiongkok anjlok 11% akibat hilangnya MH 370 dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing (8 Maret 2014), jumlah wisatawan asing tetap tumbuh mencapai 28 juta dengan pengeluaran 76 miliar ringgit (US$21,1 miliar). Tahun ini Malaysia menargetkan 29,4 juta turis asing dengan pengeluaran 89 miliar ringgit (US24,7 miliar). Turisme tetap menjadi penghasil devisa terbesar kedua setelah produk manufaktur.

Related Posts

Singapore Airlines, Changi Airport, dan Singapore Tourism Board (STB), seperti ditulis the Straits Times (30/6), dalam dua tahun ini akan menggelontorkan dana S$20 juta atau kini senilai Rp200 miliar. Dana bersama itu dipakai bersama-sama memasarkan Singapura sebagai NTW. Dana itu dipakai untuk lebih banyak menarik turis asing dari lebih 15 pasar dunia.

Selain itu, dana dipakai juga untuk mengembangkan turis asing kelas atas; tinggal di hotel bintang lima terpilih, pelayanan check-in khusus, antar jemput bandara privat, diskon voucer, dan akses ke semua atraksi. Dana S$20 juta itu merupakan ekspansi dari dana sebelumnya S$35 juta April lalu. Total anggaran S$55 juta (lebih setengah triliun rupiah) itu untuk mencapai pertumbuhan 3%-4% turis asing dalam satu dasawarsa. Pada 2014, Singapura menarik 15,1 juta turis asing.

Apakah arti Rp10 miliar (sekitar S$1 juta) untuk mempromosikan Danau Toba di internasional? Menteri Pariwisata Arief Yahya kiranya tidak sedang bercanda dengan dana ‘sebesar’ 1,8% anggaran Singapura itu. Tapi apa gunanya mempromosikan suatu destinasi bila ulasan turis asing mengatakan sulit tidur karena banyak nyamuk? Sebelum mendapat pengakuan UNESCO menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kebumian (geopark), sebaiknya menteri pariwisata dan tujuh bupati di kawasan itu lebih dulu menjadikan hotel-hotel bebas nyamuk. Uang Rp10 miliar mudah-mudahan bisa bikin takut nyamuk bila tidak bocor di perjalanan.

Lagi pula, untuk menjadikan Indonesia sebagai NTW, diperlukan pikiran besar, strategi besar, program terpadu, sehingga anggaran efektif. Contoh, saya tidak bisa mengerti kaitan Indonesia sebagai NTW dengan promosi Garuda sebagai sponsor klub sepak bola Inggris, Liverpool. Turis asing dari pasar dunia mana hendak diangkut Garuda dari Liverpool? Apakah bijak, karena pengambil keputusan Garuda pengagum klub Liverpool, BUMN itu mengalokasikan dana untuk klub itu? Bagaimana dengan penggemar Arsenal dan Chelsea yang bermarkas di London? Pikiran parsial dan parokial harus dibuang jauh-jauh.

Pikiran besar dan program besar dapat diwujudkan bila diurus bersama-sama seperti di Singapura. Garuda seperti Singapore Airlines, Angkasa Pura seperti Changi Airport, dan Kementerian Parwisata seperti Singapore Tourism Board.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.