Bangkitnya Populisme

146

POPULISME sebagai paham kian perkasa di berbagai negara. Terakhir, hal itu terbukti di Italia, Minggu (4/12). Warga Italia dengan 59,1% suara menolak perubahan konstitusi yang ditawarkan PM Matteo Renzi. Akibatnya, Renzi mengundurkan diri. Pemilu kelak diprediksi bakal dimenangi kalangan populis radikal, Five Star Movement, yang dipimpin komedian Beppe Grillo. Bila berkuasa, Grillo akan mengadakan referendum untuk meninggalkan euro, menghidupkan mata uang lira, bahkan Italia sangat berkemungkinan menyusul Inggris keluar dari Uni Eropa.

Substansi pokok populisme ialah untuk mendapatkan dukungan dari warga biasa, populisme memberi apa yang mereka inginkan. Sesungguhnya, tidak ada riwayat Trump sebagai populis. Ia kapitalis dan elitis seasli-aslinya. Namun, faktanya kelas pekerja dan kalangan taat beragama memercayai populisme yang dijanjikannya. Dua per tiga warga kulit putih tak bergelar sarjana dan 80% evangelis kulit putih memilih Trump menjadi presiden.

Sebuah statistik kiranya cukup menggugah, sebagian besar pekerjaan pria Amerika menjadi sopir mobil, bus, atau truk. Lebih dari tiga juta orang Amerika sopir truk profesional. Delapan tahun AS dipimpin Presiden Barack Obama, elite cerdas dari Partai Demokrat, tidak membuat hidup warga biasa menjadi lebih baik. Pendapatan kelas pekerja merosot. Populisme pun laku keras sekalipun digaungkan capres norak dan instan menjadi populis. Di Italia dan Prancis, populisme itu kiranya berkaitan dengan tingginya pengangguran.

Sejak 2012, angka pengangguran di Italia di atas 10%, yaitu 10,7% (2012), 12,2% (2013), 12,7% (2014), dan 11,9% (2015). Di Prancis, pada tahun yang sama, pengangguran naik terus, yaitu 9,4% (2012), 9,9% (2013), 10,3% (2014), dan 10,4% (2015). Namun, di Inggris, yang terjadi sebaliknya, pengangguran terus berkurang dari 8,0% pada 2012 menjadi 7,9% (2013), 6,1% (2014), bahkan 5,3% (2015). Akan tetapi, 2016, Brexit yang menang.

Related Posts

Benarkah populisme yang bangkit di AS? Paul Krugman, peraih Nobel ekonomi, mematahkan tesis tersebut. Kata dia, untuk kelas pekerja, Partai Demokrat mengusung kebijakan yang lebih baik daripada partai mana pun. Contohnya kawasan timur Kentucky, sangat kulit putih. Ambil kasus Clay County, yang beberapa tahun lalu disebut tergolong tempat paling sulit untuk hidup. Pada 2013, sebanyak 27% warga tidak punya asuransi kesehatan, turun tinggal 10% pada 2016.

Hillary Clinton berjanji melanjutkan program Obama yang populis itu, sedangkan Trump menghentikannya. Hasilnya? Di Clay County, Trump yang menang dengan meraih 87% suara. Bila bukan karena bangkitnya populisme, isme apa yang membuat Trump menang? Ada yang menjawab kebangkitan nasionalisme baru, yang ditandai teriakan Trump, “Make America great again!” Grillo dan Le Pen mengagumi Trump, tentu juga ‘teriakan’ mereka untuk negara masing-masing.

Jawaban lain diajukan Mark Lilla, profesor kemanusiaan di Columbia. Kata dia, pilpres AS menandai berakhirnya identitas liberalisme. Hillary sangat bagus berbicara soal kepentingan AS di dunia dan bagaimana hal itu berkaitan dengan pemahaman demokrasi. Akan tetapi, ketika bicara perihal rumah sendiri, dia cenderung kehilangan visi besar dan tergelincir pada retorika kebinekaan, dengan menyebut eksplisit African-American, Latino, LGBT, dan pemilih perempuan.

“Itu kesalahan stategis,” kata Mark Lilla. Perihal kelompok-kelompok di Amerika, lebih baik katakan semua mereka. Jika tidak, mereka yang tidak disebut merasa ‘dikeluarkan’. Itulah yang terjadi dengan kelas pekerja kulit putih dan evangelis. Kita bukan penganut liberalisme. Kita penganut Pancasila. Menyebut anak bangsa kiranya lebih baik, mencakup semuanya, apa pun suku dan agamanya, tak ada yang merasa ‘ditinggalkan’ atau ‘dikeluarkan’.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.