Ujaran Kebencian

168

APAKAH indahnya menebar ujaran kebencian? Hanya orang ‘sakit’ yang menjawab betapa indahnya menebar kebencian. Benarkah pernyataan itu?

Pernyataan itu hiperbolis karena realitas menunjukkan betapa menebar kebencian tidak berhubungan dengan ‘sakit’ atau ‘waras’. Orang ‘sakit’ atau orang ‘waras’ kiranya sama-sama dapat menjadi penebar kebencian.

Dahulu orang tak bisa menyebar kebencian dan meresponsnya seketika, lalu serentak menyebarkannya ke seluruh penjuru.

Kini, melalui media sosial, itulah yang terjadi.

Sebaliknya, mestinya sama saja, dahulu orang tidak bisa menyebar kebajikan dan meresponsnya seketika, tetapi kini dengan media sosial, mudah sekali.

Nyatanya? Lebih mudah menyebar kebencian ketimbang kebajikan.

Padahal, sesuai dengan namanya, media sosial tidak diciptakan untuk menjadi media asosial, apalagi media antisosial.
Namun, kini orang di mana-mana direpotkan paradoks tersebut.

Situasi itu kayaknya tidak ada relasinya dengan kehebatan suatu bangsa, suatu negara.

Negara supermaju seperti AS pun mengalaminya, sebagai buah pahit dari kebebasan.

Contohnya, berkaitan dengan Donald Trump, melalui hastag #boycottgrubhub, tersebarlah kebencian terhadap Grubhub, perusahaan jasa pengantar makanan via daring.

Isinya agar pendukung Trump memboikot perusahaan itu.

Apa pasal?

Tersebutlah Matt Maloney, bos perusahaan itu, mengirim e-mail kepada karyawannya yang isinya menyarankan karyawan yang setuju dengan perilaku dan kampanye presiden terpilih Donald Trump agar mengundurkan diri.

Related Posts

E-mail itu antara lain terbit dan dibahas seorang jurnalis di Foxnews.com (Rabu, 10/11).

Matt Maloney membantahnya. E-mail-nya telah salah dimengerti.

Kata Maloney, ia tidak meminta siapa pun jika memilih Trump untuk mengundurkan diri.

“Saya tidak akan pernah melakukan hal itu. Sebaliknya, pesan e-mail itu mengatakan bahwa kami tidak menoleransi kegiatan diskriminasi atau komentar kebencian di lingkungan kerja. Kami membela perbedaan perspektif dan inklusif.”

Grubhub rata-rata sehari melayani 267.500 pesanan yang diantar meliputi 1.100 kota di seantero AS.

Akibat kebencian itu penjualannya merosot, dalam 24 jam sahamnya anjlok 5%.

Dampak ujaran kebencian terhadap bisnis dapat dihitung.

Akan tetapi, berapa harganya, berapa nilainya, bila sampai menghancurkan persatuan bangsa?

Di dalam pidatonya di acara Silaturahim Nasional Ulama Rakyat dengan tema Doa untuk keselamatan bangsa di Ancol, Jakarta (Sabtu, 12/11), yang diselenggarakan Partai Kebangkitan Bangsa, dihadiri lebih dari 5.000 kiai, Presiden Joko Widodo memprihatinkan ujaran bernada hujatan, ejekan, makian, fitnah, serta ujaran yang mengarah ke adu domba yang tersebar luas di media sosial.

“Bangsa kita punya budi pekerti yang baik, punya sopan santun, punya akhlaqulkarimah. Saling ejek, saling memaki, saling memfitnah, dan adu domba itu bukan jati diri masyarakat Indonesia.”

Kiranya bukan pula jati diri bangsa ini menyulut dan membangkitkan perbantahan dan pertengkaran di tengah masyarakat, melalui medium apa pun.
Jati diri itu seperti lenyap seketika gara-gara pilkada Jakarta.

Pilkada Jakarta memberi pelajaran amat penting bagi persatuan bangsa, tidakkah lebih bijak pilkada dilakukan DPRD?

Cukuplah pilres dipilih langsung oleh rakyat.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.