Tertangkap Basah

155

KIRANYA patut disimpulkan, ‘efek jera’ tak terdapat dalam perbendaharaan jiwa wakil rakyat.

Yang banyak bercokol di situ ialah ‘tertangkap basah’.

Kedua hal tersebut seyogianya saling memberi pengaruh positif bagi tegaknya legislatif yang bersih.

Akibat efek jera, tak ada lagi wakil rakyat yang korupsi, terlebih sampai tertangkap basah KPK, dengan bukti uang tunai.

Kenyataannya, belum lagi kering tinta media menulis ihwal tertangkap basah Damayanti, anggota DPR dari PDIP, kini media kembali menulis KPK menangkap basah Sanusi, anggota DPRD Jakarta, dari Partai Gerindra.

Kenapa wakil rakyat tidak takut tertangkap basah?

Boleh jadi mereka dirasuki percaya diri amat besar.

Segala sesuatu menyangkut jalannya transaksi telah dirancang dan dipikirkan sedemikian rupa, hanya nasib buruk sampai tertangkap basah.

Padahal, KPK menangkap basah bukan berdasarkan primbon.

Yang belum tertangkap pun bukan karena masih bernasib baik.

Korupsilah terus, nasib apes menjemputmu.

Korupsi di kalangan wakil rakyat layaknya candu.

Korupsi pertama Rp1 miliar, lolos, kenapa tidak kedua kali?

Uang yang diterima kedua kali lebih gede, Rp1,140 miliar.

Related Posts

Itulah yang dilakukan Sanusi, sampai kemudian tertangkap basah.

Seperti pecandu narkoba, koruptor bila sudah sakau akan mencari penawar yang lebih tinggi dosisnya, alias korupsi lebih besar lagi.

Seperti ketagihan lainnya, ketagihan korupsi pun tak mudah disembuhkan, tak gampang dihentikan.

Itu rupanya kelakuan ‘enak’, ‘fly’, sampai tertangkap basah.

Tertangkap basah KPK patut ditengarai menjadi semacam kenikmatan tersendiri. Bila belum sampai ke sana, sepertinya belum eksis, belum diakui sebagai koruptor hebat.

Kenapa?

Tertangkap basah mendapat liputan luas.

Pemeriksaan berjam-jam di KPK pun menarik perhatian pers.

Ketika tersangka mengenakan rompi oranye khas bertuliskan ‘KPK’, sempurnalah ketenaran sang koruptor.

Itulah penjelasannya, kenapa banyak koruptor berompi oranye itu tersenyum dan melambaikan tangan ketika berhadapan dengan kamera televisi.

Yang menjadi trending topic kemudian ialah hubungan santun dan korupsi.

Wakil rakyat yang santun tertangkap basah korupsi. Justru KPK-lah yang kurang santun, menangkapnya basah.

Terus terang, saya lebih memilih menggunakan frasa ‘tertangkap basah’ daripada ‘tertangkap tangan’ terhadap koruptor.

Korupsi itu sama mesum dan joroknya dengan perbuatan bersebadan yang tertangkap basah di WC umum. Sama-sama tidak punya malu.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.