Maria Sharapova

170

KATA orang suci, setialah pada perkara-perkara kecil. Hanya yang setia pada perkara-perkara kecil akan setia pada perkara-perkara besar.

Apakah tidak menuruti nasihat orang suci itu yang terjadi pada Maria Sharapova sehingga ia tertimpa perkara besar?

Perkara besar itu ialah dilarang bermain tenis selama empat tahun karena terbukti memakai meldonium. Hukuman itu dapat berkurang, bergantung pada ‘pembelaannya’. Maria Sharapova tidak bermaksud/berniat/sengaja melakukan doping.

Meldonium masuk daftar obat terlarang bagi petenis sejak 1 Januari 2016. Peraturan terbaru itu dikirim resmi melalui e-mail pada 22 Desember 2015. Tes doping dilakukan terhadap Maria Sharapova pada 26 Januari 2016, dalam Australian Open (18-31 Januari 2016).

Jadi, itu praktis hanya 35 hari setelah e-mail resmi International Tennis Federation itu diterima Maria Sharapova. Akan tetapi, pelatih, manajemen, juga Maria Sharapova sendiri, tidak membuka e-mail tersebut. “I didn’t click on the link,” kata Maria Sharapova, jujur, kepada pers di Los Angeles, Senin (7/3).

Ia menerima hasil tes doping itu, mengakuinya, bahkan menyatakan telah 10 tahun mengonsumsi meldonium dari dokter keluarga karena mengalami kekurangan magnesium. Keluarganya yang menderita diabetes pun memakainya.

Meldonium diproduksi sebuah perusahaan farmasi di Latvia, beredar di Rusia, tetapi tidak di AS. Obat itu merupakan modulator metabolis, untuk penyakit jantung, memperlancar peredaran darah.

Gara-gara obat itu, Nike membatalkan kontrak delapan tahun, senilai US$70 juta, yang ditandatangani Maria Sharapova pada 2010. Para penggemarnya berharap hukumannya kurang dari empat tahun.

Harapan itu beralasan. Ada sebuah kontras mendebarkan terhidang saban kali menyaksikan pertarungan Maria Sharapova melawan saingan terberatnya, Serena Williams, di layar televisi.

Adu kecanggihan kelas satu dunia, tetapi kontras bak pertarungan peragawati lembut gemulai berusia 28 tahun melawan atlet yang tetap perkasa padat berotot dalam umur 34 tahun.

Kiranya sebuah kehilangan besar bagi penggemar tenis di seluruh dunia karena pertandingan menarik juara 5 kali grand slam melawan juara 21 kali grand slam itu, selama 4 tahun ini.

I didn’t click on the link. Saya tidak membuka e-mail, perkara kecil. Akan tetapi, karena perkara kecil itulah Maria Sharapova tergelincir dari puncak kebesaran. Padahal, puncak kekayaan dan ketersohoran itu diraihnya dari dasar kemiskinan.

Ayahnya, Yuri, membawanya ke AS ketika ia berusia tujuh tahun, bermodalkan US$700, uang pinjaman. Ayahnya menjadi pencuci piring, berpisah dengan ibunya yang tetap tinggal di Rusia. Semua itu demi putri cilik berbakat besar menjadi petenis dunia.

Impian menjadi kenyataan, kini ternoda oleh perkara kecil, I didn’t click on the link. Kata orang suci, setialah pada perkara-perkara kecil.

Related Posts

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.