Mulut

135

PUNYA mulut, maaf, berkemungkinan dapat petaka. Tidak punya mulut? Petaka luar biasa. Mulut bukan cuma pintu pemasukan, melainkan juga pintu pengeluaran. Keduanya berpotensi membawa petaka. Oleh karena mulut sebagai pintu pengeluaran yang sedang hangat dipersoalkan di ruang publik, baiklah hal itu yang lebih dulu disorot. Mulut pada prinsipnya milik perseorangan. Sebagai pintu pengeluaran, bagaimana dan untuk apa mulut digunakan di ruang privat bukan urusan kita.

Ia baru menjadi urusan orang lain bila sembarang dipakai di ruang publik. Terlebih, jika pemiliknya penyelenggara negara, mulut sebagai pintu pengeluaran menjadi urusan publik. Pengeluaran yang disorot bukan berupa muntah dalam arti apa adanya, melainkan muntahan kata-kata yang dimaknai pihak yang terkena sama kotornya, sama baunya. Itulah yang terjadi dengan Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK, yang mengeluarkan kata-kata di ruang publik melalui televisi, tentang HMI dan korupsi yang memicu unjuk rasa ke KPK serta diadukan ke ranah hukum.

Mulut mendapat tempat penting dalam khazanah keindonesiaan, dibuktikan sebagai kata paling banyak dipakai dalam peribahasa, sampai 19 entri. Lancang mulut, sama artinya dengan mulut gatal, yaitu cerewet. Berbeda dengan mulut bocor, tak dapat menyim pan rahasia. Yang paling populer ialah terlepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau, terhindar dari kemalangan kecil menghadapi kemalangan besar. Yang paling kuno, dari sastra Melayu, mulut hang lebih daripada gedembai, yang artinya perkataanmu juga yang membinasakan dirimu.

Related Posts

Semakna dengan itu, mulut kamu harimau kamu mengerkah (batu) kepala kamu, yang dirampingkan menjadi, mulutmu harimaumu. Maknanya perkataanmu juga yang mencelakakan dirimu. Itulah kiranya yang terjadi pada Saut Situmorang. Karena bermula dari mulut, kiranya persoalan dapat diselesaikan juga dengan mulut, yaitu minta maaf, setulus-tulusnya. Mulut sebagai pintu pemasukan pun dapat membawa petaka. Masukkanlah barang yang enak-enak tanpa kira-kira, seperti kuning telur, kulit ayam, gorenggorengan.

Dampaknya boleh diharapkan kolesterol membubung tinggi. Jangan kaget bila suatu hari terkena penyakit jantung atau stroke. Itu baru makanan. Bila gairah serupa juga terjadi pada minuman bergula dan beralkohol, sempurnalah mulut sebagai pintu pemasukan petaka. Berkolesterol tinggi atau bergula tinggi dipandang persoalan perseorangan. Padahal, itu berdampak pada APBN bila pengobatannya menggunakan BPJS. Tidakkah negara bangkrut kalau 10% saja warga seperti itu?

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip dua peribahasa. Pertama, mulut satu lidah bertopang, perkataannya lain dengan isi hatinya. Kedua, mulut manis mematahkan tulang, yang artinya perkataan lembut dapat menundukkan orang. Bayangkan, betapa mengerikan jika yang mematahkan tulang itu ternyata lidah yang bertopang. Untunglah Podium ini tidak dibikin dengan mulut, tetapi dengan gadget.

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.